Selain harus terus mewaspadai Gunung Merapi, pemerintah juga tak boleh mengabaikan gunung berapi lainnya, termasuk Gunung Anak Krakatau. Rabu 3 November, tingkat kegempaan dan letusan gunung di perairan Selat Sunda itu semakin tinggi dan berbahaya.
Bahaya Letusan Gunung Anak Krakatau
Selain mengeluarkan letusan, bahaya lain gunung berapi anak gunung Krakatau ini mengalami erupsi berupa muntahan lahar dan letusan yang dibarengi sepuluh macam gas beracun yang mematikan. Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, Anton Tripambudi menegaskan aktivitas Gunung Anak Krakatau semakin meningkat. Erupsi GAK, lanjut dia, mengeluarkan 10 macam gas beracun. Salah satunya adalah karbondioksida yang bisa mematikan bila dihirup manusia.
’’Siapa pun yang menghirup gas itu secara tiba-tiba akan mengalami sesak napas, pingsan, bahkan bisa berakibat kematian,’’ jelasnya.
Dia menyatakan, gas beracun GAK tidak berbau dan sulit ditebak. ’’Yang jelas, jika kita berada dekat lokasi gunung, mustahil bisa selamat,’’ tegasnya.
Anton menuturkan, persebaran gas beracun dari aktivitas GAK bergantung arah mata angin dan pergerakannya selalu mencari tempat yang lebih rendah. Karena itu, tips menghadapi letusan gunung berapi, selama terjadi letusan siapa pun tidak diizinkan untuk mendekat dalam radius dua kilometer dari GAK. (dari)
Gunung Anak Krakatau Keluarkan Gas Mematikan
Aktivitas Kegempaan Gunung Anak Krakatau masih terus terjadi. Letusan yang tidak putus-putus dari perut gunung telah menyebabkan keluarnya lava panas dan gas beracun yang sangat berbahaya. “Saat ini Gunung Anak Krakatau sudah mengeluarkan muntahan gas beracun yang cukup berbahaya” kata Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Cinangka Kabupaten Serang, Anton Tripambudi, Rabu, (3/11).
Menurutnya, gas beracun yang dikeluarkan dari dalam perut Gunung Anak Krakatau itu berdampak terhadap fungsi pencernaan manusia. “Selain kepala pusing, mual-mual, dan yang lebih membahayakan adalah dapat mematikan” tegas Anton.
Dari data seismograf di Pos Pemantau Gunung Anak Gunung Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, hari ini, telah terjadi enam kali gempa vulkanik dalam, 117 kali gempa vulkanik dangkal, 223 kali letusan, 157 kali hembusan, dan 219 kali tremor.
Menurut Anton, dengan aktivitas kegempaan sebanyak itu, Gunung Anak Krakatau seharusnya sudah berada di level I atau awas. Namun karena letak Gunung Anak Krakatau berada di tengah laut statusnya tidak ditingkatkan. “Berbeda kalau gunungnya berada di daratan dan dekat dengan pemukiman, statusnya sudah harus awas,” tegas Anton.
Sementara itu, Kepala Cabang PT Indonesia Ferry Merak Angkutan, Teja Suparna, mengatakan penyeberangan di pelabuhan Merak-Bakauheni sejauh ini masih normal. Menurutnya, dalam sehari terdapat 76 kapal yang dioperasikan. “Kami sudah himbau agar nahkoda kapal tetap waspada, mengingat kondisi gunung anak krakatau sedang labil” kata Teja. (dari)
Jangkauan Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Dampak letusan gunung anak Krakatau yang terjadi sejak sepekan terahir sudah mulai dirasakan warga. Bahkan abu vulkanik dari letusan anak Krakatau saat ini sudah sampai pemukiman rumah warga disepanjang pantai Anyer dan Carita hingga Kota Cilegon Banten.
Abu vulkanik dari letusan anak Krakatau nampak di dinding kaca dan lantai rumah warga di sepanjang Anyer, Carita dan Kota Cilegon Banten. “Sejak kemarin sore kaca dan lantai rumah warga banyak dihujani debu Krakatau,” kata Laila, 42 tahun, warga Cilegon Kamis (4/11).
Laila mengatakan, hingga siang ini hujan debu masih terjadi, Sejumlah warga berusaha membersihkan kaca dan lantai rumah masing-masing.
Aktifitas kegempaan gunung anak Krakatau hingga kini masih terus mengeluarkan gas beracun yang sangat berbahaya. Dari data seismograf di Pos Pemantau Gunung Anak Gunung Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, hari ini, telah terjadi 618 aktifitas kegempaan dari gunung anak Krakatau.
“Vulkanik dalam 21, vulkanik dangkal 113, letusan 152, hembusan 114, Tektonik jauh 21 dan tremor 217 kali” kata Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Cinangka Kabupaten Serang, Anton Tripambudi Kamis, (dari).
Anak Gunung Krakatau Keluarkan Pijaran Lava
Anak Gunung Krakatau yang sudah satu pekan berstatus Waspada atau level II, sesekali mengeluarkan pijaran lava, Kamis (4/11). Hal ini membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Bandung, Jawa Barat, melarang warga untuk mendekat.
“Pijaran lava sesekali keluar dari perut Anak Gunung Krakatau dan pijaran tersebut akan terlihat jelas pada malam hari,” kata Kepala Pos Pemantau GAK di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Anton S. Pambudi.
Anton menjelaskan, pijaran lava pertama kali terlihat pada 28 Oktober lalu. “Pantauan kami di pos pemantau, pijaran itu terlihat pada pukul 21.00 WIB. Kalau siang atau pagi hari pijaran lava tidak terlihat karena tertutup oleh awan hitam kelabu,” kata Anton, menambahkan.
Sementara itu, aktivitas kegempaan Anak Gunung Krakatau pada Selasa (2/11) mencapai 722 kali. Jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan pada Senin (1/11), yakni sebanyak 729. “Jumlah kegempaan yang terjadi di Anak Gunung Krakatau masih kisaran 700 kali. Untuk hari ini data yang ada belum dikalkulasikan,” katanya.
Secara rinci, Anton menjelaskan bahwa jumlah kegempaan pada Selasa untuk vulkanik dangkal (VA) berjumlah enam kali, vulkanik dalam (VB) 177 kali, letusan 233 kali, dan tremor 219 kali. Sedangkan pada hari sebelumnya, jumlah kegempaan mencapai 729 kali, dengan rincian VB 31, VA 221, letusan 178, tremor 151, dan embusan 148 kali. Dia menambahkan untuk ketinggian asap rata-rata 100 sampai 1.700 meter, dengan warna kelabu kehitam-hitaman yang menggumpal.(dari)

TIPS MENGHADAPI BAHAYA LETUSAN GUNUNG BERAPI
Kisah Gaib Tsunami Mentawai
Heboh Penampakan Awan Panas Gunung Merapi Berbentuk Hantu Pocong
Heboh Foto Awan Puncak Merapi Berbentuk Kepala Petruk
Fenomena Fenomena Alam 2010
Hisapan ombak MISTIS Parangtritis DIBUKTIKAN secara ILMIAH
Inilah Naskah Penyebab Kasus Silet RCTI Kontroversial oleh Fenny Rose
Bahaya-bahaya Gunung Api Seperti Merapi Selain Lava
Citra Satelit Perlihatkan Kawah Merapi Meluas Akibat Letusan
[...] BMKG gempa di ujung kulon ini tidak berpotensi tsunami. Namun bagaimana dengan pengaruhnya terhadap letusan gunung anak krakatau yang juga terjadi letusan? Karena lokasi gempa ini sangat dekat dengan lokasi anak gunung [...]