Kisah Gaib Tsunami Mentawai

0

Category : Bencana & Alam

Cuaca buruk menghambat perjalanan tim media, tim dari Kementerian Sosial, sejumlah pengungsi, dan relawan kemanusiaan menuju Padang dari Pulau Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Selain karena faktor alam, hal-hal yang tidak masuk akal pun menemani perjalanan rombongan. Malam itu suara tangisan bayi memecahkan suasana perjalanan. Bayi tiga bulan itu, tidak henti-hentinya menangis.

tsunami mentawai Kisah Gaib Tsunami Mentawai

“Bapak anaknya jangan ditaruh di situ, kemarin ada yang meninggal di sana,” ujar seorang tentara kepada Petrus, ayah bayi tersebut.

Sehari sebelumnya, memang ada penumpang yang tewas di dalam kapal sepanjang 45 meter ini. Setelah dipindahkan, anehnya bayi tersebut langsung diam dan tersenyum. ”Di tempat itu masih ada yang di sana dan belum mau pulang kali,” timpal Arif, salah seorang penumpang kapal.

Dari tiga anak Petrus, hanya anaknya yang paling kecil saja yang tidak menangis ketika di tempatkan di lokasi tersebut. “Kedua kakaknya menangis terus,” ujar Petrus kepada okezone.

Petrus bersama keluarganya berencana mengungsi ke Ujungpandang setelah rumahnya hanyut terbawa gelombang tsunami. Dengan sisa uang seadanya dia nekat membawa pergi keluarganya karena khawatir ada bencana susulan.

Malam itu, gelombang air laut cukup besar untuk mengombang-ambingkan kapal yang dinaiki rombongan. Di perjalanan, pintu kamar di beberapa ruangan di dalam kapal beberapa kali terbuka dan daun pintunya terhempas sehingga menimbulkan suara keras.

Situasi di atas cukup aneh mengingat para penumpang dan kru kapal sebelumnya telah menutup pintu-pintu tersebut rapat-rapat. “Mungkin hanya angin saja,” ujar salah seorang warga Mentawai, yang berusaha menenangkan penumpang lain. (dari)

Suasana mencekam saat tsunami diceritakan Pardinus (31) kepada detikcom. Saat itu, warga Muntai tengah tertidur lelap. Tiba-tiba dibangunkan oleh suara deru yang sangat keras sekitar pukul 02.30 WIB.

“Seperti suara hantu. Bukan hanya ombak besar. Sadar-sadar saya sudah di tempat ini,” kata Pardinus yang mengungsi di Gereja GKPM Sikakap.

Sementara itu, berdasarkan pantauan detikcom di Mentawai, Jumat (29/10/2010), cuaca buruk masih menyelimuti Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat. Akibatnya, proses pemulihan Mentawai pasca tsunami mengalami hambatan.

Cuaca buruk itu nampak ketika KM Barau berlayar dari Padang menuju Sikakap selama 18 jam. Ombak besar dan hujan deras mengguyur sepanjang pelayaran. Bahkan suara debur ombak terasa menghatam lambung kapal. Ketika sampai di Sikakap hujan besarpun langsung mengguyur.

Menurut prakiraan cuaca yang di keluarkan BMKG gelombang tersebut berkisar antara 2 hingga 3 meter hingga 31 Oktober. Bahkan pada tanggal 1 dan 2 November 2010 diperkirakan tinggi gelombang lebih dari 3 m hingga 6 meter.

Akibat cuaca yang belum bersahabat, distribusi bantuan masih terhambat. Ribuan mie instan, air mineral, beras dan sembako lainnnya masih terkonsentrasi di Sikakap dan wilayah sekitar. Namun untuk mencapai Muntai dan pantai selatan yang terlanda bencana paling parah harus berkompromi dengan alam. (dari)

Popular Tags:

cerita bencana alam, kisah mistis pantai parangtritis

Artikel lain tentang Kisah Gaib Tsunami Mentawai

Popular Tags:

cerita bencana alam, kisah mistis pantai parangtritis

Loading

Post a comment

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.